Mewujudkan Pembangunan Yang Merata Di Seluruh Indonesia

Makan bersama sebagai bentuk pendidikan huruf (Foto Dokumen Pribadi)

Sejak Indonesia merdeka tanggal 17 Agustus 1945, negeri kita terus berbenah dan melaksanakan pembangunan dalam segala hal. Di awal kemerdekaan tentu bangsa Indonesia masih bergelut dengan penjajahan yang ingin menguasai kembali dan masih minimnya sumber daya insan serta kekurangan dana untuk membangun negeri ini. 

Tetapi sesudah lebih dari 71 tahun Indonesia merdeka seharusnya negeri kita sudah lebih maju dari negara lain. Sebagai perbandingan coba kita lihat negeri matahari terbit Jepang yang luluh lantak di bom atom oleh Amerika Serikat beberapa hari sebelum Indonesia merdeka tetapi kini perekonomian dan pembangunannya lebih pesat dibandingkan dengan Indonesia.

Banyak hal yang membedakan antara Indonesia dengan Jepang, sehingga Jepang lebih maju dalam dibandingkan dengan negara kita. Pertama karena luas wilayahnya yang terpaut jauh dengan negara kita. Jepang mempunyai luas wilayah 377.923,1 km² sementara Indonesia mempunyai luas 1.905 Juta km². Sehingga Jepang lebih gampang untuk mengelolanya dibandingkan dengan Indonesia. 

Perbandingan Indonesia dan Jepang


Selain luas, Indonesia mempunyai banyak potensi yang bisa diberdayakan, selain potensi yang ada di daratan, lautan, udara bahkan kekayaan yang ada di dalam permukaan bumi. Kalau dipakai untuk kepentingan rakyatnya tentu Indonesia mempunyai kemampuan yang lebih dari cukup bahkan bisa dibilang berlimpah. 

Kedua sumber daya manusianya, Jepang mempunyai orang-orang pekerja keras yang tidak gampang mengalah dalam melaksanakan pekerjaannya dalam membuat sesuatu produk atau jasa. Berbeda dengan prinsip sebagai orang Indonesia yang belum mengerjakan sesuatu sudah bilang susah dan kalau gagal tidak akan mengulanginya lagi hingga berkali-kali. 

Ketiga budaya sempurna waktu, setiap ada event atau acara, sudah menjadi tradisi di Indonesia dengan istilah “jam karet”. Waktu yang ditentukan jam 8 tetapi datangnya jam 8 lebih bahkan acaranya dibuka mulai jam 9. Bagi orang Jepang waktu yaitu hal yang paling berharga. Menunda-nunda pekerjaan sama dengan halnya menambah pekerjaan. Kata “santai saja” masih sering terdengar padahal pekerjaannya menumpuk dan harusnya cepat diselesaikan. 

Keempat mempunyai budaya rasa malu, Orang Jepang dan Indonesia sebetulnya sama-sama orang timur alasannya yaitu itu sebetulnya mempunyai rasa malu, hanya saja bagi orang Jepang kalau mereka merasa gagal dalam pekerjaannya maka beliau akan mengundurkan diri alasannya yaitu masih mempunyai rasa aib yang tinggi, sementara di negeri kita, jarang sekali ada pemimpin yang gagal kemudian mengundurkan diri. 

Kelima mempunyai rasa ingin tahu yang tinggi, Orang Indonesia belum bisa menyerupai orang Jepang yang kemana-mana selalu membaca buku, alasannya yaitu dengan membaca buku akan terbuka wawasan dan pengalamannya selain itu dengan buku tersebut orang Jepang mempunyai ketertarikan dan keinginan yang tinggi. Maka tidak heran inovasi-inovasi teknologi muncul dari orang Jepang. Saat ini orang Indonesia masih lebih banyak sebagai pengguna teknologi dibandingkan membuat teknologi. 

Nah kini mari kita lihat pembangunan yang di Indonesia apakah sudah sesuai cita-cita atau belum. Berbagai sarana dan prasaran, kemudahan umum memang sudah disediakan oleh pemerintah tetapi dalam kenyataannya masih jauh dari cita-cita seluruh lapisan masyarakat Indonesia. Dari sekian banyak pembangunan yang faktual dan pribadi dinikmati oleh masyarakat Indonesia hanya beberapa yang bisa dirasakan oleh warganya. Berikut pembangunan yang bisa dirasakan oleh masyarakat Indonesia : 
Jalanan beton hingga ke pelosok desa (Foto Dokumen Pribadi)

Pertama yaitu jalan. Suatu negara akan terlihat banyak korupsinya atau tidak bisa dilihat dari jalannya. Semakin sedikit jalanan yang berlubang dan rusak maka semakin jauh negara tersebut dari Korupsinya. Jalan sangat penting bagi perekonomian suatu bangsa. Karena dengan jalan yang mulus dan tidak macet maka acara perekonomian akan berjalan lancar. 

Sementara itu kalau jalanan rusak dan berlubang serta sering macet maka perekonomian akan tersendat. Para produsen akan kesulitan ketika mengirim barangnya ke konsumen, begitu juga ketika masyakarat akan melaksanakan aktivitasnya dari rumah ke tempat pekerjaan atau bepergian ke luar tempat akan terganggu kalau jalannya berlubang, dan macet. 

Jalanan sudah retak padahal belum usang dibeton (Foto Dokumen Pribadi)

Saat ini pemerintah sering menunjuk kontraktor dengan melaksanakan perbaikan jalan dengan sistem betonisasi atau pengaspalan di banyak sekali wilayah di Indonesia, tetapi sangat disayangkan ada beberapa kontraktor yang memanfaatkan pembangunan tersebut dengan ala kadarnya dan terkesan mencari untung yang banyak. 

Seperti halnya betonisasi jalan, seharusnya memakai pondasi yang memakai besok semoga lebih kokoh dan berpengaruh jalannya, tetapi kenyataanya banyak jalan yang hanya diberi besi pada ujung-ujungnya saja. Sehingga nantinya jalanan yang harusnya bisa bertahan selama lima atau sepuluh tahun tetapi hanya beberapa hari saja jalanan sudah retak-retak. 

Besi beton asal-asalan tidak masuk ke dalam (Foto Dokumen Pribadi)

Selain itu pembangunan jalan di Indonesia tidak efisien waktu. Di beberapa tempat banyak pembuatan jalan yang memakan waktu hingga berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan. Seharusnya penyedia layanan jalan raya dalam hal ini Dinas Pekerjaan Umum selektif dalam menentukan kontraktor dan melaksanakan perjanjian sesuai dengan waktu yang telah ditentukan. 

Pengawasan pengerjaan perbaikan jalan atau pembuatan jalan sebaiknya dilakukan oleh pihak yang netral sehingga tidak akan terjadi kongkalingkong atau korupsi dalam pembuatan atau perbaikan jalan di seluruh Indonesia. 

Perbaikan dan pembuatan jalan sebaiknya tidak hanya Jawa Sentris atau terpusat di Pulau Jawa, tetapi juga harus merata ke seluruh pelosok Indonesia. Karena mereka juga bab tak terpisahkan dari negara kesatuan republik Indonesia sehingga harus diperhatikan terutama terusan jalannya. 

Jangan hingga di pelosok atau pedalaman Indonesia jalannya belum diaspal selama bertahun-tahun dan terkesan dibiarkan begitu saja. Apalagi untuk tempat yang lokasinya erat dengan perbatasan, mereka sangat rentan untuk berpindah kewarganegaraannya bahkan memindahkan batas negara kalau tidak diperhatikan oleh pemerintahnya. 

Jembatan hanya cukup untuk satu kendaraan beroda empat (Foto Dokumen Pribadi)

Kedua perbaikan atau pembuatan jembatan. Ada banyak jembatan yang ada di Indonesia yang tidak layak dipakai bahkan membahayakan bagi keselamatan orang yang melaluinya. Pemerintah harus bertindak cepat sebelum terjadi korban jiwa, jangan hingga sesudah ada korban gres ada perbaikan. 

Dinas pekerjaan umum bekerjasama dengan pihak universitas atau para peneliti, harus mencari cara terbaik dan tercepat dalam perbaikan dan pembuatan jembatan baru. Hal ini sering kita melihat bahwa perbaikan atau pembuatan jembatan yang ada di beberapa tempat di Indonesia memakan waktu berminggu-minggu bahkan hingga berbulan-bulan. 

Akibatnya sudah bisa dipastikan kemacetan sering terjadi yang bisa menghambat perekonomian nasional. Selain itu biaya operasional dan waktu yang dibutuhkan sangat usang sehingga sangat merugikan bagi pemilik perusahaan atau pengusaha kecil dan menengah. 

Indonesia sebetulnya besar hati mempunyai banyak tenaga mahir yang bisa membangun jalan tol antar pulau menyerupai Tol Surabaya Madura dan Tol Laut Mandara di Bali yang bisa membuat jalan di jembatan yang menyeberangi antar pulau.


Ketiga sarana pengairan. Air merupakan sumber kehidupan bagi manusia, tidak ada air bisa dipastikan insan akan kehausan dan bisa berdampak pada kematian. Oleh alasannya yaitu itu perlu dibentuk sarana pengairan bagi seluruh warga negara Indonesia baik yang ada di pedesaan maupun di perkotaan. 

Waduk untuk PLTA, pengairan, dan air higienis (Foto Dokumen Pribadi)

Di beberapa tempat di Indonesia, Pemerintah sudah membuat sumber air menyerupai waduk atau bendungan yang bisa dimanfaatkan selain dimanfaatkan untuk air minum juga sanggup dipakai untuk mengaliri sawah dan bisa dimanfaatkan sebagai sumber listrik, mencegah banjir, budidaya perikanan, dan juga pariwisata. 

Sayangnya di beberapa tempat di Indonesia masih banyak warga yang belum mendapat kemudahan air bersih, sehingga mereka harus membeli air dirigenan, atau air galon untuk minum sehari-hari bahkan ada beberapa tempat di Indonesia untuk mendapat air higienis harus rela berjalan berkilo-kilo meter semoga bisa mendapat air bersih. 

Keempat yaitu tempat tinggal yang layak. Tempat tinggal yang layak bisa berupa rumah, apartemen atau rumah susun. Tempat tinggal selain untuk tempat istirahat juga tempat berinteraksi dengan anggota keluarga. Tapi sayangnya besarnya cicilan, dan harganya sangat mahal yang membuat masyarakat tidak sanggup mempunyai rumah, apartemen atau rumah susun.


Pemukiman di perkotaan (Foto Pribadi)

Tempat tinggal yang layak juga harus memenuhi beberapa faktor menyerupai cukup sinar matahari, ada sirkulasi udara, lantai yang sudah disemen, mempunyai tempat pembuangan sampah, mempunyai kamar mandi dan WC sendiri dan tentunya mempunyai sumber air higienis yang layak untuk minum, basuh dan masak. 

Kelima yaitu sarana pendidikan. Maju tidaknya suatu negara tergantung dari pendidikannya. Semakin banyak warganya yang mempunyai tingkat pendidikan yang tinggi, semakin besar penghasilannya. Sayangnya pendidikan di Indonesia menjadi ajang ujicoba.

Lihat saja kenyataan yang ada, pemerintah dalam hal ini Dinas Pendidikan menerapkan kurikulum ganda yang satu memakai kurikulum 2013, sementara sekolah lainnya masih memakai kurikulum 2006. Dari bahan saja tentu berbeda sehingga outputnya sudah dipastikan berbeda. 

Sekolahan tempat saya mengajar sudah cantik tetapi di tempat lain belum tentu (Foto Dokumen Pribadi)

Selain itu masih banyak sarana pendidikan yang kurang memadai dari bangunan sekolah yang tidak layak, media pembelajaran yang belum mendukung, dan masih banyak lagi lainnya. Belum lagi masih banyak tenaga pendidik honorer yang mendapat penghasilan di bawah UMR (Upah Minimum Regional) padahal lebih banyak didominasi tenaga pendidik, pendidikannya sudah S1. 
Pendidikan juga tidak melulu pendidikan yang berafiliasi dengan duniawi tetapi juga harus seimbang dengan pendidikan agama dan kebijaksanaan pekerti. Sehingga nantinya dibutuhkan para generasi muda bangsa Indonesia mempunyai huruf sebagai insan yang beriman dan bertaqwa, serta menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi. 

Pendidikan juga harus merata hingga ke pelosok Indonesia. Untuk itu harus dibantu dengan adanya pemanfaatan teknologi canggih. Sehingga bagi mereka yang berada di pedalaman bisa berguru atau kuliah secara online dengan memakai terusan internet. 

Mudah-mudahan dengan masukan-masukan tadi akan mendapat perhatian dari pemerintah. Sehingga negara kita akan semakin maju di masa yang akan tiba dan bisa bersaing dengan negara-negara lain bukan hanya level ASEAN tetapi juga dunia.

Related Posts

Mewujudkan Pembangunan Yang Merata Di Seluruh Indonesia
4/ 5
Oleh