6 Tokoh Akseptor Penghargaan Achmad Bakrie 2015

Penerima Penghargaan Achmad Bakrie 2015 : Ahmad Tohari, Suharyo Sumowidagdo, Suryadi Ismadji, Tigor Silaban, Azyumardi Azra, dan Kaharuddin Djenod (kiri ke kanan). 

Penghargaaan Achmad Bakrie kembali digelar untuk yang ke-13 kembali di Jakarta (Jumat 21 Agustus 2015). Bertempat di Gedung Djakarta Theater XXI Jl. M.H Thamrin Jakarta Pusat, aktivitas ini hadir untuk menunjukkan motivasi kepada orang-orang Indonesia yang memiliki prestasi yang menginspirasi orang lain untuk menunjukkan sumbangsih terbaiknya kepada Indonesia. 


Penghargaan Achmad Bakrie yang diadakan semenjak tahun 2003 ini layaknya Penghargaan berskala internasional menyerupai Hadiah Nobel yang menunjukkan penghargaan kepada orang atau intitusi atas karya-karyanya dibidang sastra, kimia, fisika, ilmu kedokteran, ekonomi dan perdamaian. 


Penghargaan Achmad Bakrie ini biasanya diberikan setiap tahun menjelang Hari Kemerdekaan Republik Indonesia 17 Agustus. Tetapi kali ini diberikan sehabis Hari Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-70. 

Penghargaan yang awalnya hanya menunjukkan penghargaan kepada tokoh-tokoh dalam bidang Kesusasteraan, Pemikir Sosial, Kedokteran/kesehatan, Sain dan bidang Teknologi, semenjak tahun 2010 bertambah satu kategori yakni bidang Ilmuwan Muda Berprestasi dimana menunjukkan penghargaan kepada mereka yang berprestasi yang usianya masih di bawah 40 tahun. 

Berikut 6 Tokoh Penerima Penghargaan Achmad Bakrie tahun 2015 ialah : 

  1. Azyumardi Azra untuk Pemikir Sosial. Tokoh yang sehari-hari menjabat sebagai Direktur Sekolah Pascasarjana dan Guru Besar Sejarah dan Peradaban Islam Fakultas Adab dan Humaniora UIN (Universitas Islam Negeri Ini dikenal sebagai seorang sejarawan yang tekun, pendidik yang progresif, dan seorang penulis terutama mengenai studi-studi sejarahnya yang bersifat rintisan, pemahaman keislamannya yang moderat, dan dukungannya yang besar lengan berkuasa kepada kesatupaduan agama, khususnya Islam dan negara Indonesia. 
  2. Akhmad Tohari untuk bidang Kesusasteraan. Juru dongeng yang lahir di Tinggarjaya Jatilawang Banyumas Jawa Tengah ini berasal dari keluarga sederhana. Di tangannya tradisi realisme yang sudah berkembang semenjak awal mula kelahiran sastra Melayu yang kemudian berganti berbahasa Indonesia. Karya-karyanya banyak menceritakan kehidupan orang-orang papa yang ada di sekitarnya. Karya-karyanya dalam bentuk cerpen dan novelnya sampai ketika ini masih banyak digemari oleh penggemarnya di seluruh Indonesia. Menurut beliau Kecerdasan, kepintaran seseorang tidak akan ada apa-apanya tanpa perasaan. 
  3. Tigor Silaban. Dokter yang awalnya bercita-cita menjadi arsitek ini harus mengurungkan niatnya alasannya orang tuanya meminta beliau supaya menjadi dokter. Orang tuanya berharap semoga dirinya bisa membantu orang lain yang membutuhkan. Sejak 5 Juli 1979 beliau bekerja menjadi dokter di Papua. Tigor Silaban menyatukan diri dengan kehidupan warga setempat dan bekerja siang malam memperbaiki kesehatan dan mengangkat mutu kehidupan masyarakat di wilayah paling Timur Indonesia itu. Kini walaupun dirinya sudah pensiun, beliau tetap bekerja melayani masyarakat yang membutuhkan bantuannya. Tapi Tigor tetap merendah bahwa penghargaannya ialah untuk timnya yang telah membantu beliau selama ini. Karena beliau bukan apa-apa tanpa mereka. 
  4. Suryadi Ismadji Untuk Sains. Merupakan salah satu peneliti Indonesia yang paling produktif memublikasikan hasil karya penelitiannya di banyak sekali macam jurnal internasional terindex SCI (Science Citation Index) dari Thompson Reuters maupun terindex Scopus (Elsevier). Hingga ketika ini jumlah publikasi dari Suryadi Ismadji tercatat sebanyak 116 jurnal internasional dan 2369 makalah. Saat ini Suryadi Ismadji menduduki peringkat 4 ilmuwan Indonesia dengan jumlah publikasi dan total sitasi terbanyak di Indonesia. 
  5. Kaharuddin Djenod Daeng Manyambeang untuk Teknologi. Pria kelahiran Surabaya 14 Maret 1971 ini terinspirasi bahtera otok-otok semenjak kecil. Pria yang pernah merasakan kuliah Teknik Penerbangan di ITB ini kesannya menentukan aktivitas bea siswa STAID atau Beasiswa Habibie dan terdampar di negeri Sakura yang merupakan negara penghasil Kapal nomor 1 di dunia semenjak 1960. Pada tahun 2005 bersama koleganya Kahar merintis pendirian perusahaan desain kapal yang secara formal menjadi perusahaan desain kapal yang pertama di Indonesia. Setahun kemudian perusahaan itu menjadi perusahaan luar Jepang pertama yang mendesain kapal Jepang. Pada tahun 2010 Kahar bersama timnya terdiri dari belum dewasa muda meluncurkan kapal cepat atau CB Tunas Terafulk 1 sebagai kapal alumunium cepat di Indonesia. 
  6. Suharyo Sumowidagdo untuk Peneliti Muda Berprestasi. Pria kelahiran Singaraja 25 Oktober 1976 ini tertarik pada ilmu fisika semenjak SMP. Kemudian beliau melanjutkan sekolanya di Sekolah Menengan Atas dan kuliah melalui jalur permintaan di Universitas Indonesia jurusan Fisika. Suharyo merupakan alumni Fisika UI yang berkiprah dengan peneliti lain yang membahas perihal partikel elementer. Berkat kemampuannya tersebut Suharyo sering diminta menjadi narasumber beberapa media nasional untuk inovasi Higgs Boson tersebut. Tapi berdasarkan beliau inovasi terpenting dalam hidupnya ialah Dinar yang tidak lain ialah isterinya. 
Acara ini dihadiri oleh Keluarga besar Achmad Bakrie dan banyak sekali tamu permintaan baik dari Ketua DPR, MPR dan masih banyak lagi lainnya. Beruntung kami 10 blogger Viva atau Vivalogger diundang menghadiri aktivitas tersebut untuk melihat pemberian penghargaan Achmad Bakrie XII.

Related Posts

6 Tokoh Akseptor Penghargaan Achmad Bakrie 2015
4/ 5
Oleh